Senin, 20 Januari 2014

Artikel Ilmiah



MODEL PEMBELAJARAN KEBERMAKNAAN DALAM PEMBELAJARAN PENCERMINAN BANGUN DATAR BERDASARKAN TEORI KEBERMAKNAAN AUSUBEL

Oleh

Linda Aprilianti

(5C PGSD IKIPPGRI SEMARANG)

Abstrak
Geometri merupakan cabang matematika sekolah yang di dalamnya termuat banyak konsep dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Dari sudut pandang matematik, geometri menyediakan pendekatan-pendekatan untuk pemecahan masalah, misalnya gambar-gambar, diagram, system koordinat, vektor, dan transformasi.
Salah satu materi dari geometri adalah bangun datar. Pada materi bangun datar siswa diajarkan pencerminan bangun datar.
Pada kenyataannya siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi geometri. Untuk mengatasi kesulitan siswa tersebut tentang bangun datar yaitu dengan penerapan model pembelajaran kebermaknaan sesuai teori kebermaknaan Ausubel.

Kata Kunci: geometri, pembelajaran, pencerminan, teori Ausubel

PENDAHULUAN
            Usiskin (1987:26-27) mengemukakan bahwa geometri adalah (1) cabang matematika yang mempelajari pola-pola visual, (2) cabang matematika yang menghubungkan matematika dengan dunia fisik atau dunia nyata, (3) suatu cara penyajian fenomena yang tidak tampak atau tidak bersifat fisik, dan (4) suatu contoh system matematika (Abdussakir, 2011).
            Salah satu materi geometri yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah bangun datar. Salah satu submateri dari bangun datar yaitu pencerminan bangun datar.
Dalam pembelajaran pencerminan bangun datar banyak ditemui kendala antara lain, kesulitan siswa dalam mengidentifikasi sifat-sifat bayangan bangun datar, cara menentukan posisi gambar bayangan pencerminan bangun datar juga memiliki kesulitan karena kurangnya pemahaman siswa terhadap materi tersebut, pendekatan pembelajaran yang digunakan kurang mendorong minat siswa terhadap proses pembelajaran, pemilihan alat peraga,kurang jelasnya pemecahan  masalah dalam penyelesaian soal latihan. Oleh karena itu, timbul pertanyaan model pembelajaran apakah yang sesuai untuk diterapkan pada pembelajaran pencerminan bangun datar agar kendala dan kesulitan dalam pembelajaran dapat terpecakan?
Oleh karena itu, penulis menyusun sebuah model pembelajaran yang penulis namakan model pembelajaran kebermaknaan. Model pembelajaran kebermaknaan disusun penulis berdasarkan teori kebermaknaan Ausubel.
Menurut Ausubel, belajar merupakan apa yang disebut asimilasi bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Untuk itu ada dua syarat (Reilley & Lewis, 1983) yaitu (a) materi yang secara potensial bermakna, dipilih serta diatur oleh guru dan harus sesuai dengan tingkat perkembangan serta pengalaman yang telah dimiliki siswa, dan (b) suatu situasi belajar yang bermakna (Yoeti Soekamto, 1996:25).
Di dalamm proses belajar-mengajar guru dapat menerapkan prinsip-prinsip teori belajar bermakna dari Ausubel melalui langka-langkah sebagai berikut: mengukur kesiapan siswa, memilih materi dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep kunci-kunci, mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai dari materi baru, menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh , menggunakan advance organizers, mengajar siswa memahami konsep dan prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada (Yoeti Soekamto, 1996:26).
Menurut Ausubel pembelajaran lebih diitekankan pada resepsi, yaitu adanya materi yang disajikan dapat diinternalisasi oleh siswa (Reilley & Lewia, 1983) dan dapat diasimilasikan secara deduktif. Ausubel menekankan bahwa apa yang dipelajari harus dihubungkan dengan apa yang telah ada dalam strukturr kognitif siswa (Yoeti Soekamto, 1996:27).
Berdasarkan pendapat Ausubel tersebut, model pembelajaran yang dirancang penulis bertujuan agar proses pembelajaran siswa dapat lebih bermakna dengan menghubungkan materi yang dipelajari dengan pengalaman yang telah dimiliki siswa sehingga pemahaman siswa terhadap materi pencerminan bangun datar dapat terjadi secara maksimal.

PEMBAHASAN
KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN KEBERMAKNAAN
A.      Sintakmatik
1.      Pendahuluan
-          Pada tahap pendahuluan guru membimbing siswa untuk menghubungkan antara apa yang dipelajari dan apa yang pernah dipelajari dari pengalamannya.
-          Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai, ini merupakan hal yang paling penting karena siswa harus tahu apa tujuan mereka belajar.
2.      Penyajian Konsep
-          Guru memulai dengan memberi contoh konkret dan kontroversial yang dapat membangun rasa ingin tahu siswa.
-          Guru menyampaikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai dari materi baru terseebut.
-          Guru memberikan latihan-latihan kepada siswa berupa kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung untuk mengembangkan keterampilan motoriknya.
-          Guru mengawasi setiap siswa pada saat mengerjakan latihan untuk mengetahui perkembangan siswa secara individu.
-          Guru memberikan penguatan setiap kali siswa menunjukkan sikap yang diinginkan.
3.      Penutup
-          Guru memberikan umpan balik kepada siswa berupa koreksi maupun nasehat dan lain sebagainya.
-          Guru memberikan tugas rumah
B.       Prinsip Reaksi
-            Guru memusatkan perhatian siswa terhadap contoh-contoh yang spesifik.
-            Guru menyiapkan sumber belajar dan alat peraga yang dapat merangsang siswa berpikir.
-            Siswa belajar untuk tidak menghafal, tetapi harus memahami konsep baru dan menghubungkan dengan pengetahuan yang dimiliki siswa.
-            Guru memberikan latihan-latihan yang dapat mengembangkan keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan motorik, dan sikap siswa.
C.      Sistem Sosial
Pada model pembelajaran ini diorganisasikan secara terstruktur. Guru membimbing dan memandu siswa. Kemampuan siswa dalam proses pembelajaran dan pengamatan akan terlihat secara individu yang berbeda antara siswa satu dengan lainnya. Pada dasarnya model pembelajaran ini mendorong perkembangan individu namun tetap harus didasarkan pada persamaan derajat, kerjasama, dan kebebasan intelektual.
D.      Sistem Pendukung
Sarana yang diperlukan dalam melaksanakan model ini adalah ruang kelas dan tempat belajar yang nyaman, alat peraga dan media pembelajaran yang relevan dengan materi, pengelolaan kelas yang baik, dan setiap hal yang dibutuhkan siswa untuk melakukan proses pembelajaran.
E.       Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring
§  Dampak Instruksional:
1.      Pengembangan pengetahuan, keterampilan akademis, keterampilan motorik, dan keterampilan pengelolaan diri.
2.      Keterampilan dalam mengembangkan pengetahuan dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki siswa.
§  Dampak Pengiring:
1.      Kemandirian
2.      Toleransi
3.      Konsep dan keterampilan
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KEBERMAKNAAN DALAM PEMBELAJARAN PENCERMINAN BANGUN DATAR
1.      Pendahuluan
-          Pada tahap pendahuluan guru membimbing siswa untuk menghubungkan antara apa yang dipelajari tentang pencerminan dan apa yang pernah dipelajari dari pengalamannya. Guru menanyakan kepada siswa tentang apa yang siswa lihat ketika bercermin.
-          Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai, yaitu dapat menggambarkan pencerminan bangun datar dengan tepat.
4.      Penyajian Konsep
-          Guru memulai dengan memberi contoh konkret dan kontroversial yang dapat membangun rasa ingin tahu siswa.
-          Guru meminta siswa menyebutkan posisi bayangan badan ketika siswa bercermin.
-          Guru menyampaikan prinsip-prinsip tentang sifat-sifat pencerminan bangun datar.
-          Guru memberikan latihan-latihan kepada siswa berupa kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung untuk melakukan percobaan mengamati benda didepan cermin.
-          Siswa diminta menggambarkan bangun datar jajar genjang dan segitiga dan kemudian mencari letak bayangan bangun tersebut pada buku petak yang dibawa siswa.
-          Guru mengawasi setiap siswa pada saat mengerjakan latihan untuk mengetahui perkembangan siswa secara individu.
-          Guru memberikan penguatan setiap kali siswa menunjukkan sikap yang diinginkan.
5.      Penutup
-          Guru memberikan umpan balik kepada siswa berupa koreksi maupun nasehat dan lain sebagainya. Misalnya, guru dan siswa bersama-sama mengorksi hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan soal-soal latihan, kemudian guru memberikan koreksi apa yang kurang, bagaimana yang benar, dan harus seperti apa.
-          Guru memberikan tugas rumah berupa soal-soal pencerminan bangun datar.
SIMPULAN
            Untuk mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi pencerminan bangun datar diperlukan suatu strategi, metode, dan bahkan teori pembelajaran yang sesuai. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kebermaknaan sesuai teori kebermaknaan Ausubel. Karakteristik yang dimiliki oleh teori kebermaknaan Ausubel yaitu advance organizers yang merupakan sebuah kerangka (Entwistle, 1981) dalam bentuk ringkasan konsep-konsep dasar dari apa yang harus dipelajari dan dihubungkan dengan apa yang telah ada di dalam struktur kognitif siswa. Adanya hubungan tersebut maka akan menyebabkan materi yang baru tidak dipelajari secara hafalan. Dengan demikian, pengorganisasian pembelajaran, isi, pengalaman, dan materi merupakan faktor penting. Guru memegang peran penting dalam menciptakan kondisi belajar yang nyaman sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Walgito, Bimo.2004.Pengantar Psikologi Umum Ed. IV.Yogyakarta:ANDI Yogyakarta.
Soekamto, Yoeti dan Udin Saripudin Winataputra.1996.Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran.Pusat antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Direktorat Jenderal Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Abdussakir.2011. Pembelajaran Geometri Sesuai Teori Van Hiele. Artikel dimuat dalam El-Hikmah: Jurnal Kependidikan dan Keagamaan, Vol VII Nomor 2, Januari 2010, ISSN 1693-1499. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar